Bahagia itu Sederhana
Bertelanjang kaki mereka lari kesana dan kemari dipayungi langit biru dan terik matahari.
Memanggil nama kami sama kerasnya dengan knalpot motor yang melintasi jalan tak beraspal di depan sekolah.
Sambil menggelayuti lengan, mereka membawa kami mengelilingi gedung sekolah.
Senyum lebar bahagia dan bercerita dengan semangat apa yang terjadi hari ini.
Satu anak bolos tadi pagi tapi berangkat ke sekolah begitu melihat kami.
Dua buah batu diberi jarak beberapa kaki di satu sisi dan dua buah batu lainnya diseberang.
Bola sepak jadi permainan kesukaan dan kebanggaan, meskipun tak jarang diselingi tangis karena dorong-dorongan atau pukul-pukulan.
Menang atau kalah mereka berbaikan, seolah tak pernah terjadi perselisihan.
Suara tifa dipukul-pukul tanpa melodi tapi mereka masih menari.
Bertanya malu-malu, mereka ingin mengerti matematika.
Menyodorkan tulisan tangan buram di atas kertas yang tak dihapus dengan bersih, mereka serius belajar bahasa.
Belajar sesuatu yang belum pernah dilihat, mereka menggunakan imajinasi.
Hembusan angin mengibarkan bendera merah putih, kami masih di tanah air.
Langit jingga pertanda kami harus kembali ke rumah.
Lambaian tangan mengiringi suara knalpot yang semakin sendu.
Bukit dan Danau Sentani jadi saksi.
Sampai besok adik-adikku.